Vertical Lift Module vs Vertical Buffer Module: Perbedaan, Fungsi, dan Mana yang Tepat?

Vertical Lift Module vs Vertical Buffer Module: Perbedaan, Fungsi, dan Mana yang Tepat?

1. Peran dan Dampaknya terhadap Efisiensi Manajemen Gudang

Dalam sistem warehouse management modern atau Warehouse Management System (WMS), ada tiga aspek utama yang perlu dioptimalkan, yaitu pemanfaatan ruang, kecepatan pemenuhan pesanan, dan akurasi picking. Dua solusi otomatisasi penyimpanan vertikal, yaitu VLM (Vertical Lift Module) dan VBM (Vertical Buffer Module), dirancang berdasarkan prinsip goods-to-person. Keduanya dapat membantu mengurangi waktu pencarian barang, meminimalkan human error, serta memperlancar internal logistics di dalam gudang.

Namun, pilihan antara VLM dan VBM bergantung pada beberapa faktor, seperti karakteristik produk, jumlah SKU, frekuensi turnover, dan kondisi lingkungan gudang. Memahami perbedaan kedua teknologi ini membantu perusahaan menentukan investasi yang sesuai, mengurangi biaya operasional, dan meningkatkan efisiensi gudang dalam jangka panjang.


2. Karakteristik SKU: Faktor Penting dalam Menentukan Alokasi Penyimpanan

Salah satu faktor paling penting dalam menentukan sistem penyimpanan adalah jumlah dan karakteristik SKU (Stock Keeping Units). VLM (Vertical Lift Module) cocok digunakan pada gudang dengan jumlah SKU yang lebih sedikit, turnover yang lebih rendah, serta produk berukuran lebih besar atau memiliki nilai tinggi. Sistem tray yang fleksibel memungkinkan berbagai jenis produk disimpan secara terorganisir dan aman.

Di sisi lain, sistem seperti Miniload-Tower (HSM-VBM-MT) lebih sesuai untuk lingkungan dengan jumlah SKU yang tinggi, pesanan dalam batch kecil, dan inventory dengan perputaran cepat. Sistem ini umum digunakan pada e-commerce, manufaktur elektronik, serta penyediaan material untuk lini perakitan.


3. Struktur Sistem dan Mekanisme Operasi

VLM (Vertical Lift Module) bekerja menggunakan sistem lift vertikal yang membawa tray menuju access window untuk proses pengambilan barang. Sementara itu, VBM (Vertical Buffer Module) menggunakan mekanisme buffer berbasis conveyor yang dapat menempatkan beberapa bin dalam posisi siap diambil secara berkelanjutan. Dengan turntable miring 20 derajat, VBM menawarkan posisi kerja yang lebih ergonomis, membantu mengurangi kelelahan operator, serta meningkatkan kecepatan picking.

VBM juga mendukung beberapa access point secara bersamaan, sehingga cocok untuk operasional yang membutuhkan pemrosesan pesanan secara paralel atau penyediaan material secara berkelanjutan ke lini produksi.


4. Fleksibilitas dalam Menangani Berbagai Bentuk Produk dan Kondisi Penyimpanan

Berbeda dengan VLM yang menggunakan format tray standar, VBM dapat menangani berbagai bentuk wadah, seperti kapsul, botol kaca, karton, hingga drum cairan. Fleksibilitas ini membuat VBM cocok digunakan pada industri yang membutuhkan penanganan produk secara khusus, termasuk farmasi, kimia, kosmetik, dan makanan.

Kedua sistem juga dapat dikustomisasi dengan material berinsulasi, pengontrol kelembapan, sensor lingkungan, atau enclosure kedap udara untuk memenuhi kebutuhan penyimpanan khusus, seperti cold storage, dry zone, cleanroom yang aman dari ESD, hingga lingkungan dengan kadar oksigen rendah. Konfigurasi tersebut juga dapat mendukung pemenuhan standar seperti GMP, HACCP, ISO 13485, serta cleanroom class 100–10.000.


5. Integrasi dan Skalabilitas dengan Sistem Gudang

Baik VLM maupun VBM dapat diintegrasikan dengan berbagai sistem gudang, seperti WMS dan ERP, barcode scanner, safety sensor, serta pick-to-light system. VLM sering digunakan untuk penyimpanan yang membutuhkan keamanan dan kontrol tinggi, sedangkan VBM dirancang untuk terintegrasi dengan conveyor, robotic picker, serta aliran material otomatis di lingkungan manufaktur.

Dengan desain yang modular, kedua sistem dapat dikembangkan setelah instalasi tanpa mengubah footprint gudang. Hal ini cocok bagi perusahaan yang ingin melakukan ekspansi secara bertahap tanpa harus mengganti infrastruktur yang sudah ada.


6. Kecepatan Proses dan Performa Operasional

VLM mengambil tray satu per satu, sehingga lebih sesuai untuk operasional dengan frekuensi picking sedang. Sementara itu, VBM menyiapkan bin terlebih dahulu dan memutar stasiun picking untuk memberikan akses secara berkelanjutan. Mekanisme ini memungkinkan throughput yang lebih tinggi dibandingkan VLM, terutama untuk sortation center atau lini produksi dengan aktivitas yang cepat.


7. Biaya Investasi dan Return on Efficiency

VLM membutuhkan investasi awal yang lebih rendah sehingga cocok bagi perusahaan yang baru memulai perjalanan menuju otomatisasi gudang. Sementara itu, VBM membutuhkan investasi yang lebih besar, tetapi dapat memberikan ROI jangka panjang yang lebih tinggi pada lingkungan dengan volume operasional tinggi.

Peningkatan produktivitas, berkurangnya ketergantungan pada tenaga kerja, dan minimnya kesalahan picking dapat membantu perusahaan mengembalikan investasi dalam waktu sekitar 1–3 tahun.


8. Kesimpulan: Sistem Mana yang Sebaiknya Dipilih?

Kedua solusi memiliki keunggulan masing-masing dan dapat memberikan manfaat ketika digunakan sesuai dengan kebutuhan operasional. Bagi perusahaan yang ingin membangun smart warehouse, pendekatan hybrid dapat menjadi solusi yang efektif dengan menggabungkan VLM untuk penyimpanan yang membutuhkan keamanan dan kontrol tinggi, serta VBM untuk operasional yang membutuhkan kecepatan tinggi dan volume pemrosesan besar.

→ Lihat Detail Produk di Sini


Hubungi kami untuk konsultasi atau jadwalkan demo mesin langsung di showroom kami:

  • Telepon: (+62) 819 3819 8989 (WhatsApp, WeChat, Zalo)

  • Email: marketing@hoshima-int.com

  • LinkedIn | Facebook | YouTube: Hoshima International

Hoshima hadir membantu otomatisasi industri garmen Anda dengan menyediakan:

Share